Orang Bugis Pandai Menyembunyikan Maksud
:: M Aan Mansyur ::
panyingkul.com | Senin, 22-01-2007


Selain La Galigo, epos-mitos Bugis yang bisa jadi adalah karya sastra terpanjang di dunia, mungkin tak banyak lagi karya sastra Bugis yang kita ketahui. Padahal, menurut Roger Tol dalam sebuah artikelnya, selain jumlahnya yang diperkirakan sampai 2.500.000 karya, kualitas karya sastra Bugis sangat menarik untuk terus diperbincangkan.



Salah satu jenis karya sastra Bugis adalah elong. Meskipun secara harfiah elong berarti ‘lagu’, tetapi dalam pembahasan sastra elong dimaksudkan sebagai satu jenis puisi.


Menurut Salim (1990:3-5) sedikitnya ada 14 jenis elong, yang bisa dibedakan menurut isi (keluarga, agama, nasehat dan hiburan), peristiwa (lulabi, perang, pernikahan, melamar, dll) dan kepelikan atau keanehannya (bentuk dan permainan bahasa). Contoh-contoh elong bisa ditemukan dalam beberapa buku yang ditulis oleh Muhammad Salim, Muhammad Sikki, Rahman Daeng Palallo, dan paling komprehensif ditulis oleh B.F Matthes.


Ada sebuah jenis elong yang belum banyak dibahas namun justru sangat menarik yaitu elong maliung bettuanna. Maliung sebenarnya berarti ‘dalam’ dan bettuanna berarti ‘artinya’ atau ‘maknanya’. Frase maliung bettuanna dalam jenis puisi ini berarti ‘susah ditemukan maknanya’. Dengan kata lain, puisi dengan makna tersembunyi (Palallo, 1968, 11:7).


Bukankah semua puisi memang menyembunyikan maknanya? Betul. Tetapi, ternyata ada yang berbeda dalam jenis puisi Bugis ini. Selain menggunakan simbol atau majas tertentu, jenis puisi ini menggunakan satu (permainan) bahasa yang disebut Basa to Bakke’ (yang tidak akan ditemukan dalam jenis puisi lain) untuk menyembunyikan makna. Secara harfiah Basa to Bakke’ berarti bahasa orang-orang Bakke’. Tetapi dalam pengertian puisi ini frase itu berarti permainan bahasa orang-orang Bakke’. Bakke’ di sini merujuk kepada Datu Bakke’ atau Pangeran (dari) Bakke’. Daerah Bakke terletak di Soppeng. Sang pangeran konon dikenal sebagai tokoh yang intelek dan sangat pandai berbahasa. Selain dalam elong maliung bettuanna, Basa to Bakke juga ditemukan dalam puisi sejarah abad ke-20 Tolo’na Arung Labuaja (Tol, 1992, 148:85).


Tiga Langkah Menyingkap Makna

Vopel (1967:3) mengatakan bahwa kemungkinan puisilah bahasa paling rumit di dunia ini. Disebut paling rumit karena puisi menghendaki kepadatan (compactness) dalam pengungkapan. Kepadatan ini tidak hanya tercermin lewat kata-kata yang memiliki bobot makna yang berdaya jangkau lebih luas ketimbang bahasa sehari-hari. Kepadatan juga berperan sebagai pembangun dimensi lapis kedua seperti membangun kesan atau efek imagery, tatanan ritmis di tiap baris, membentuk nada suara sebagai cermin sikap penulis semisal sinis, ironis, atau hiperbolis terhadap pokok persoalan yang diangkat. Dan yang lebih penting juga adalah membangun dimensi lain yang hadir tanpa terlihat karena berada di balik makna literal dan atau di balik bentuk yang dipilih.


Tuntutan-tuntutan seperti itu relatif longgar pada genre sastra lainnya, semisal prosa (cerita pendek, novel) dan drama.

Perhatikan stanza berikut ini:

Kegaena na mumaberrekkeng,

buaja bulu’ede,

lompu’ walennae?



[Mana lebih kau suka,

buaya gunung,

atau lumpur sungai?]


Sepintas lalu bentuk puisi ini mirip haiku, puisi tradisional Jepang. Namun ternyata ada beberapa hal yang membedakannya. Puisi (teka-teki) ini sesungguhnya ingin menyampaikan sebuah makna, yakni: ‘yang mana lebih kau suka, perempuan cerdas atau perempuan cantik?’ Bagaimana bisa sampai begitu?


Bagi yang paham aksara Bugis, tentu masih ingat bahwa aksara Bugis memiliki keunikan. Beberapa keunikan aksara Bugis adalah tidak adanya huruf mati (final velar nasals), glottal stop, dan konsonan rangkap (geminated consonants). Satu silabel (suku kata) jika dibaca bisa menjadi enam jenis silabel. Contohnya, huruf untuk silabel ‘pa’ bisa saja dibaca ‘pa’, ‘ppa’, ‘pang’, ‘ppang’, ‘pa’’, atau ‘ppa’’. Keunikan aksara Bugis inilah yang dieksplorasi oleh permainan Basa to Bakke’ dalam elong maliung bettuanna .


Dalam satu elong yang disebutkan tadi, langkah pertama untuk menyingkap maknanya telah dilakukan. Langkah pertama itu adalah mengidentifikasi pernyataan. Ada dua frase dalam puisi itu yang harus diperhatikan, buaja bulue’ede dan lompu’ walennae. Buaja bulu’ede berarti ‘buaya gunung’ dan lompu’ walennae berarti ‘lumpur sungai’.


Setelah mengidentifikasi pernyataan, langkah kedua adalah menemukan apa rujukan dari pernyataan (frase) yang telah ditemukan. Buaja bulu’ede (buaya gunung) dalam puisi itu merujuk kepada macang (macan) dan lompu’ walannae(lumpur sungai) merujuk kepada kessi’ (pasir).

Jika hanya sampai di sini, puisi itu berarti ‘yang mana yang lebih kau suka, macan atau pasir?’ Tetapi bukanlah itu yang sesungguhnya ingin disampaikan puisi tersebut. Lalu bagaimana caranya agar tiba pada makna sesungguhnya? Kita masih membutuhkan satu langkah lagi.


Dalam tulisan aksara Bugis, kata macang (macan) sama dengan macca’ (cerdas) dan kessi’ (pasir) sama dengan kessing (elok atau cantik). Masing-masing ditulis ‘ma-ca’ dan ‘ke-si’.

Akhirnya makna puisi itu menjadi ‘mana yang lebih kau suka, perempuan cerdas atau perempuan cantik?’ Luar biasa, kan?


Perhatikan beberapa contoh lagi berikut ini:


Gellang riwata’ majjekko,

Anre-anrena to Menre’e,

atena unnyie.


[Tembaga melengkung di ujung,

makanan orang Mandar,

hati kunyit.]

Puisi ini sesungguhnya berarti ‘aku mencintaimu’. Bagaimana bisa demikian?Gellang riwata’ majjekko merujuk kepada meng (kail), anre-anrena to Menre’emerujuk kepada loka (pisang) — konon Orang Bugis dulu menganggap makanan pokok orang Mandar adalah pisang, dan atena unnyie merujuk kepada ridi(kuning). Jika tiga kata itu dituliskan dalam aksara Bugis akan menjadi ‘me-lo-ka-ri-di’. Rangkaian huruf ini bisa juga dibaca melo’ ka ridi (aku mencintaimu).


Tiga lapis menyingkap makna itu bisa diuraikan lebih rinci seperti berikut; lapis pertama, mengenali frase yang menyimpan kiasan (bunyi). Dalam puisi di atas, setiap barisnya menyimpan masing-masing satu frase untuk mengenali kiasan itu;gellang riwata majjekko, anre-anrena to Menre’e, dan atena unnyie. Kiasan dari frase itu, secara berurutan masing-masing; meng (kail), loka (pisang), dan ridi (kuning). Lapis kedua adalah bunyi meng, loka, dan ridi. Bunyi tiga kata itu membawa kita ke lapis selanjutnya, untuk menemukan makna, bunyi meng dalam aksara Bugis ditulis ‘me’, bunyi loka ditulis ‘lo-ka’, dan bunyi ridi ditulis ‘ri-di’.


Untuk menemukan makna elong semua bunyi itu dirangkai menjadi ‘me-lo-ka-ri-di’. Rangkaian bunyi itu jika dibaca menjadi melo’ka ridi yang maknanya ‘aku mencintaimu’.




Jika disederhanakan rumus tiga lapis menyingkap makna sebuah elong maliung bettuanna adalah:

(1) frase ->(2) bunyi -> (3) makna.




Inungeng mapekke’-pekke’

balinna ase’ede,

bali ulu bale.




[Minuman pekat,

kebalikan atas,

kebalikan kepala ikan.]




Setelah melalui proses penyingkapan makna, puisi ini berarti ’saya membencimu’, makna itu ditemukan dari rangkaian kata teng, awa, dan ikko yang jika dituliskan dengan aksara Bugis menjadi ‘te-a-wa-(r)i-ko’, aku tidak mau (benci) padamu. Frase elong itu adalah inungeng mapekke-pekke, balinna ase’ede, dan bali ulu bale. Bunyi yang dihasilkan frase itu adalah teng (teh), awa (bawah), dan ikko (ekor). Bunyi ini jika dituliskan dalam aksara Bugis akan menjadi ‘te-a-wa-(r)i-ko’. Rangkaian aksara Bugis itu bisa juga terbaca teawa (r)iko (aku benci padamu).




Nah, berikut ini satu contoh lagi. Mari kita sama-sama mencoba menemukan makna dari elong tersebut.




Duami uwala sappo,

Wunganna panasae,

Na belo-belona kanukue.




[Dua saja pagarku,

bunga nangka,

dan cat kuku.]















Wunganna panasae merujuk kepada lempu (bunga nangka) jika dituliskan memakai aksara Bugis, kata lempu (bunga nangka) tak berbeda dengan lempu’(jujur) yaitu ‘le-pu’. Sementara belo-belona kanukue merujuk kepada pacci (daun pewarna kuku) yang jika ditulis sama dengan paccing (bersih) yaitu ‘pa-ci’. Jadi sesungguhnya maksud bait pendek yang mirip haiku itu adalah: hanya dua yang aku jadikan benteng; kejujuran dan kejernihan.




Selain puitis, elong maliung bettuanna juga kelihatan rumit dan berlapis-lapis. Namun jika menemukan rumusnya, puisi ini tidak serumit yang kita duga. Jenis puisi ini betul-betul unik. Sungguh, alangkah pintar orang-orang Bugis (dahulu) menyembunyikan maksudnya. Dan tentu saja, alangkah kreatifnya mereka.




Permainan Bahasa

Sesungguhnya ada pola-pola umum yang paling sering digunakan dalam permainan bahasa orang Bakke. Basa to Bakke biasanya menggunakan tiga macam topik dalam frasenya; 1) yang berhubungan dengan nama daerah atau tempat (geografical), 2) tentang tumbuh-tumbuhan (botanical), dan 3) tentang binatang (zoological). Memang ada beberapa pengecualian, tetapi ketiga topik itulah yang paling sering digunakan.


1. Frase berhubungan dengan nama daerah




Satu contoh frase untuk topik geografis adalah sebagai berikut:




Toddanna Tangka nataro,

toddanna Palangiseng,

nalao purai.




[Di sebelah utara Tangka dia letakkan,

di sebelah utara Palangiseng,

dia akan menyelesaikannya.]




Frase Toddanna Tangka merujuk kepada Lebureng yang juga bisa berarti ‘perawan’ dan frase toddanna Palangiseng merujuk kepada Baringeng yang jika disebut nyaris terdengar ringeng (ringan, murahan). Elong itu kira-kira bermakna, ‘dia mengabaikan seorang perawan lalu menikahi pelacur’. Tangka, Lebureng, Palingeseng, dan Baringeng adalah nama-nama daerah.




Beberapa frase lain yang menggunakan nama-nama daerah adalah:












Masih banyak contoh yang lain untuk frase-frase yang berhubungan dengan nama-nama tempat atau daerah.




2. Frase tumbuh-tumbuhan




Sementara frase-frase yang mengandung tumbuh-tumbuhan, ada beberapa contoh berikut ini:









3. Frase binatang




Dan yang terakhir adalah frase-frase yang berhubungan dengan binatang, di antaranya:


















Ternyata bahasa Bugis bisa menjadi permainan yang menarik. Keunikan bahasa seperti itulah yang membuat puisi Bugis menjadi berbeda dibandingkan jenis puisi lainnya. Meski elong maliung bettuanna tak lagi pernah diperkenalkan, meliriknya kembali bisa menjadi alternatif. Puisi Bugis ini bisa menjadi jawaban atas kejenuhan banyak kritikus sastra yang menganggap puisi modern Indonesia diperangkap oleh segelintir nama besar seperti Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad. Kekuatan elong maliung bettuanna adalah ketercapaian dan keseimbangan dua kekuatan, bentuk dan isi, hal yang semakin susah ditemukan oleh penyair kontemporer.




Tak banyak bentuk puisi yang mampu mengawinkan bentuk dan isi seperti yang diperlihatkan oleh elong maliung bettuanna.




Telah disadari oleh para penyair Bugis terdahulu bahwa puisi sangat penting peranannya sehingga harus dibuat sedemikin indahnya. Selain aturan bunyi (fonologi) dan makna (semantik) yang telah dijelaskan di atas, sesungguhnya elong maliung bettuanna juga menarik untuk dilihat dari segi matra (bagan yang digunakan dalam penyusunan baris sajak yang berhubungan dengan jumlah, panjang dan tekanan suku kata), pembentukan kata (morfologi) dan yang tak kalah menarik adalah archaic vocabulary, pemakaian kata-kata Bugis lama yang (mungkin) tak lagi dikenal oleh orang-orang Bugis sekarang ini.




Terbuka banyak pintu untuk masuk dan menikmati elong maliung bettuanna ini. Bagi anda yang ingin menyembunyikan maksud dalam permainan bahasa, tak ada salahnya mengadopsi cara yang digunakan puisi ini. Selain itu, ‘permainan bahasa’ ini mungkin akan membuat Anda mencintai kembali bahasa Bugis. Tapi untuk mencoba mengutak-atik elong, kita dituntut mampu membaca huruf lontara, paham budaya Bugis dan alam pikiran orang Bugis.




Sayang sekali, orang-orang Bugis sekarang tak lagi melihat arti penting sebuah puisi (elong). Berbeda dengan William Shakespeare yang karena puisi signifikan baginya, ia memujinya dalam sebuah soneta yang ia tutup dengan dua baris terakhir: so long as men can breathe or eyes can see,/so long lives this, and this gives lives to thee. Sepanjang manusia masih bernafas, atau mata masih mampu memandang, akan selama itu pula puisi tetap lestari dan ia akan memberimu kehidupan yang bermakna.(p!)







Referensi:
Fachruddin Ambo Enre, 1983, Ritumpanna Weelenrennge, telaah filologis sebuah Episode Bugis klasik, Jakarta: Universitas Indonesia.
Goenawan Mohamad, 2004, Setelah Revolusi Tak Ada Lagi, Jakarta: Alvabet.
Kennedy, J.X, 1991. Literaure: an Introduction to Fiction, Poetry and Drama, (Fifth Edition). New York: harper Collins Publisher.
Mattulada, 1985, Latoa; satu lukisan analitis terhadap antropologi politik orang Bugis, Yogyakarta: Universitas Gajah Mada
Muhammad Salim, 1969-71, Transliterasi dan Terjemahan elong Ugi (kajian naskah Bugis), Ujung pandang: Departemen P dan K, Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan.
Muhammad Sikki, dkk, 1978, Terjemahan beberapa naskah lontara Bugis, Ujung Pandang: Balai Penelitian Bahasa.
Pelras, Christian, 2006, Manusia Bugis, Jakarta: Nalar.
Perrine, Laurence, 1974, Literatre: Structure, Sound and sense. (Second Edition). New York: Harcourt Brace Javanovisch Inc.
Rahman Daeng Palallo, 1968, ‘Bahasa Bugis; Dari hal elong maliung bettuanna (pantun jang dalam artinya)’, Bingkisan I.
Siswantoro, 2002, Apresiasi Puisi-puisi Sastra Inggris, Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Tol, Roger, 1992, ‘Fish Food on a Tree Branch; Hidden Meanings in Bugis Poetry’, Leiden: Bijdragen tot de Taal-land- en Volkenkunde 148 : 82-102.