GALIGO HARI INI (SERI 103 ) 

Serial Lamar-melamar 


Ambo Baco Indo Baco (8)
Palengeng Palek Lima (7)
Liseq Rio Rennu (6)


Arti Bugis Umum

Eee, ambona La Baco iyarega Indona La Bace, tapallebbangni mai aga aktatta, nangkalingai funna bolaE, Nassau, natemmu. 

Arti Indonesia 
Duhai orang tua dari sang calon mempelai laki-laki. Ungkapkanlah maksud kedatanganmu kehadapan tuan rumah, agar kita sama tau dan bertemulah semua harapan. 


Penjelasan 
Menjawab permintaan tuan rumah agar sang tamu mengutarakan niat sesungguhnya, maka juru bicara sang tamu yang bertugas sebatas pembuka pembicaraan segera mempersilahkan orang tua sang tamu (pelamar/pihak pria) untuk mengutarakan maksud kedatangan mereka. Dalam kasus ini sang juru bicara rupanya tak ingin melangkah orang tua sang pelamar untuk menyampaikan maksud kedatangan mereka. Kebanyakan dalam proses lamar melamar, juru bicaralah yang mengambil peran penuh mulai dari awal hingga mengambil keputusan akhir, meski selama proses tersebut interaksi berupa konsultasi antara juru bicara dan orang tua pelamar sangatlah dimungkinkan. 

Demi mempersilahkan orang tua pelamar, sang juru bicara menggunakan kalimat “Ambo Baco Indo Baco, Palengeng Palek Lima, Liseq Rio Rennu”. Sebuah kalimat bernada elong galigo, yang memiliki pelapisan makna, setidaknya dua lapis makna. 

Kalimat Ambo Baco dan Indo Baco bermakna Ee Indoqna atau Amboqna La Baco, hai Ibu atau Ayah dari La Baco. Sementara kalimat Palengeng Paleq Lima berarti tengadahkan telapak tanganmu, untuk menegadahkan telapak tangan maka telapak tangan dan jemari perlu dibuka melebar, upaya ini dalam bahasa bugis disebut MALLEBBAA (melebar). Mellebba jika ditulis dalam aksara lontara bisa pula dibaca menjadi MALLEBBANG (terbuka, tersiar) yang memiliki makna tidak tertutupi, bukan rahasia atau semua orang bisa mengetahuinya. 

Sementara untuk mengetahui makna baris ketiga yang berbunyi Liseq rio rennu, yang jika dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia akan bermakna isi/inti/hakikat dari keriangan atas sebuah harapan. Untuk menemukan makna hakikinya maka dapat ditemukan dengan cara menjawab pertanyaan “apakah hakikat dari rasa riang seseorang setelah harapannya terpenuhi” 

Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah kelegaan, dalam bahasa bugis disebut Massau, jika ditulis dalam aksara lontara bugis maka tulisannya dapat pula dibaca menjadi MASSAUUU, salah satu kegiatan dalam kegiatan menenun kain sarung. Esensi utama dari kegiatan massauu ini adalah mempertemukan ujung demi ujung benang (massumpung) yang selanjutnya akan menjadi lungsi dari tenunan tersebut. Di tanah bugis pertemuan ujung benang tersebut disebut MATTEMMU. Dalam konteks galigo ini, kata mattemmu bermakna sangkaan tuan rumah (baca Galigo seri 102) dengan maksud kedatangan tamu dapat saling bersambut tangan.

====
Oleh : Suryadin Laoddang