GALIGO HARI INI (SERI 101 )

Menjawab permintaan para member, sekaligus melengkapi tema yang termaktup dalam Galigo seri 100 sebelumnya, maka mulai seri 101 ini kami akan mengangkat Galigo dengan tema “Lamar-melamar”. Selamat menikmati.

Kutudang Ri Jajarengta (8)
Baritu Toanae (7)
Tiwi Bunga Pute (6)

Arti Bugis Umum
Engka romai tudang mappakalebbi, ri lappa to foleta, ininnawa mapaccing utiwi

Arti Indonesia
Adalah kami datang dengan segala hormat dan kehormatan, merapat di ruang tamu tuan, niat baik yang kami bawa.

Penjelasan
Tidak sulit untuk memaknai galigo ini, terlebih jika sudah menemukan kata kuncinya, yang terletak pada kata “Jajareng” pada baris pertama dan “Bunga Pute” pada baris ketiga. Sementara baris kedua menjadi pelengkap, sebagai transisi untuk menjelaskan situasi dan lokasi kejadian dan galigo ini sekaligus mengantarkan ke baris selanjutnya.

Secara harfiah “Jajarengta” bermakna duduk sama rata/rendah. Mengantarkan kita pada situasi dimana sang Pelamar (Pria) dan pihak yang dilamar (Perempuan) menempatkan diri sebagai dua pihak yang setara, saling membutuhkan, tidak ada salah satu pihak yang berposisi sebagai penghiba. Setidaknya ini yang diharapkan pihak pelamar, tentu setelah pihak pria memahami siapa dan bagaimana kedudukan keluarga besar sang putri yang dilamar. Kedudukan yang dimaksud bisa berarti status sosial, agama, ekonomi dll.

Tudang majjareng sendiri sudah menjadi tradisi umum dalam masyarakat Bugis. Masyarakat Bugis sudah terbiasa duduk setara dalam sebuah pertemuan/majelis pada lantai/tikar yang sama. Tidak tempat duduk atau singgasana bagi siapapun yang dianggap lebih terhormat dalam majelis tersebut. Tidak ada tempat atau bagian tertentu yang sengaja ditinggikan (termasuk kursi) untuk altar/singgasana bagi yang dihormati. Semua tetap duduk sama rendah, hal ini berlaku dalam lingkup rumah tangga, masyarakat hingga lingkup kerajaan.

Untuk membedakan sosok yang terhormat pada majelis (termasuk dalam jamuan makan) tersebut bisa dilihat dari posisi duduk yang senantiasa duduk pada posisi pusat perhatian (center of audience), biasanya terletak pada ujung atas dari sebuah posisi majelis. Lurus dengan asal arah masuknya peserta majelis / masuknya hantaran hidangan.

Sementara kata “Bunga Pute” adalah lema Bugis untuk menyatakan nama dari Bunga Melati. Dalam hal ini kata Bunga Pute memiliki dua makna, bisa dalam tataran sebagai simbol kesucian (niat suci) yang berangkat lema dasar pute yang berarti putih/suci/bersih. Bunga Pute juga bisa dimaknai sebagai simbol dari sesuatu yang diharapkan berkembang, berangkat dari filosofi Bunga Pute yang dalam khasanah budaya Bugis diperuntukkan untuk melati yang masih kuncup (untuk kepentingan acara adat), ini berarti masih diharapkan untuk mekar atau berkembang. Seolah sang pelamar berharap niat yang dibawa saat itu dapat berkembang menjadi sebuah kesepakatan yang besar dan diwujudkan bersama kelak. Kata barite toanae, adalah lema Bugis kuno untuk menyebut Lappa Tofole (ruang tamu) saat ini.

Bagaimana tanggapan pihak yang dilamar, tunggu edisi berikutnya.

====
Oleh : Suryadin Laoddang