Thursday, March 28, 2013

GALIGO HARI INI (SERI 103 ) 

Serial Lamar-melamar 


Ambo Baco Indo Baco (8)
Palengeng Palek Lima (7)
Liseq Rio Rennu (6)


Arti Bugis Umum

Eee, ambona La Baco iyarega Indona La Bace, tapallebbangni mai aga aktatta, nangkalingai funna bolaE, Nassau, natemmu. 

Arti Indonesia 
Duhai orang tua dari sang calon mempelai laki-laki. Ungkapkanlah maksud kedatanganmu kehadapan tuan rumah, agar kita sama tau dan bertemulah semua harapan. 


Penjelasan 
Menjawab permintaan tuan rumah agar sang tamu mengutarakan niat sesungguhnya, maka juru bicara sang tamu yang bertugas sebatas pembuka pembicaraan segera mempersilahkan orang tua sang tamu (pelamar/pihak pria) untuk mengutarakan maksud kedatangan mereka. Dalam kasus ini sang juru bicara rupanya tak ingin melangkah orang tua sang pelamar untuk menyampaikan maksud kedatangan mereka. Kebanyakan dalam proses lamar melamar, juru bicaralah yang mengambil peran penuh mulai dari awal hingga mengambil keputusan akhir, meski selama proses tersebut interaksi berupa konsultasi antara juru bicara dan orang tua pelamar sangatlah dimungkinkan. 

Demi mempersilahkan orang tua pelamar, sang juru bicara menggunakan kalimat “Ambo Baco Indo Baco, Palengeng Palek Lima, Liseq Rio Rennu”. Sebuah kalimat bernada elong galigo, yang memiliki pelapisan makna, setidaknya dua lapis makna. 

Kalimat Ambo Baco dan Indo Baco bermakna Ee Indoqna atau Amboqna La Baco, hai Ibu atau Ayah dari La Baco. Sementara kalimat Palengeng Paleq Lima berarti tengadahkan telapak tanganmu, untuk menegadahkan telapak tangan maka telapak tangan dan jemari perlu dibuka melebar, upaya ini dalam bahasa bugis disebut MALLEBBAA (melebar). Mellebba jika ditulis dalam aksara lontara bisa pula dibaca menjadi MALLEBBANG (terbuka, tersiar) yang memiliki makna tidak tertutupi, bukan rahasia atau semua orang bisa mengetahuinya. 

Sementara untuk mengetahui makna baris ketiga yang berbunyi Liseq rio rennu, yang jika dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia akan bermakna isi/inti/hakikat dari keriangan atas sebuah harapan. Untuk menemukan makna hakikinya maka dapat ditemukan dengan cara menjawab pertanyaan “apakah hakikat dari rasa riang seseorang setelah harapannya terpenuhi” 

Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah kelegaan, dalam bahasa bugis disebut Massau, jika ditulis dalam aksara lontara bugis maka tulisannya dapat pula dibaca menjadi MASSAUUU, salah satu kegiatan dalam kegiatan menenun kain sarung. Esensi utama dari kegiatan massauu ini adalah mempertemukan ujung demi ujung benang (massumpung) yang selanjutnya akan menjadi lungsi dari tenunan tersebut. Di tanah bugis pertemuan ujung benang tersebut disebut MATTEMMU. Dalam konteks galigo ini, kata mattemmu bermakna sangkaan tuan rumah (baca Galigo seri 102) dengan maksud kedatangan tamu dapat saling bersambut tangan.

====
Oleh : Suryadin Laoddang

Posted on Thursday, March 28, 2013 by Suryadin Laoddang

No comments

Wednesday, March 6, 2013

GALIGO HARI INI (SERI 102 )
Serial Lamar-melamar


Upemmaga Apoletta (8)
Utuling Akkattata (7)
Pallinoni sia (6)

Arti Bugis Umum
Upenessa apolengengta, uranga-uranga akkatata, madecengni narekko tafalessu toni.

Arti Indonesia
Sesungguhnya telah kami duga ikhwal kedatangan tuan, pun maksud kedatangan tuan telah kami reka-reka. Namun agar lebih terang, ada baiknya tuan utarakan sendiri.

Penjelasan
Ini adalah Galigo jawaban tuan rumah atas kedatangan keluarga mempelai pria, dengan suka cita tuan rumah menyambut kedatangan tamunya. Dalam masyarakat Bugis, kedatangan tamu dianggap sebagai penghantar rejeki. Apalagi ketika orang itu datang melamar, tentu adalah rejeki yang tak terkira nilainya.

Meski tuan rumah sudah tahu maksud kedatangan tamunya, tapi ia tidaklah jumawa dan tetap persilahkan tamunya untuk utarakan maksudnya, ini juga wujud menghormati tamu. Selain itu, tersirat makna dimana tuan rumah menginginkan agar sang tamu langsung mengarahkan pembicaraan ke inti tujuan kedatangan mereka, permintaan itu disampaik dengan halus tapi tegas lewat kata “Pallinoni Sia”, segeralah utarakan.

Kata Upemmaga dalam bait pertama bermakana “uporennu madeceng”, seolah tuan rumah ingin berkata “sungguh senang kami menerima kedatangan tuan (membawa lamaran)”. Sementara kata “utoling” pada bait kedua bermakna “pura ucappa toling”, yang berarti tuan rumah sebelumnya telah mendengar bocoran berita jika keluarga tamu akan datang melamar. Bocoran berita itu adalah kabar baik dan rejeki bagi tuan rumah, inilah yang dimasyarakat Bugis disebut sebagai “dalle doccili”, rejeki lewat telinga (pendengaran, berita).

====
Oleh : Suryadin Laoddang

Posted on Wednesday, March 06, 2013 by Suryadin Laoddang

No comments