GALIGO HARI INI (SERI 99 )
Untuk mereka yang lagi ribut dengan pasangannya

Paria lorongnomai (8)
Riyawa tellongengta (7)
Tapada mapai (6)

Arti Bugis Umum
Pallessuni caimu, ubali cai tokki natomassarang

Arti Indonesia
Tumpahkanlah amarahmu padaku, kan kubalas pula dengan amarah, dengan begitu kita akan segera bercerai.

Penjelasan
Galigo ini termasuk kategori sulit, memiliki 3 lapisan makna. Dari makna kata, arti makna lalu makna sesungguhnya. Kata kuncinya terletak pada kata Paria dan Tellongeng, paria adalah tanaman sayur yang memiliki rasa pahit. Dalam galigo ini kata pai (pahit) mewakili makna amarah, benci bahkan hujat. Jadi baris pertama ini seolah ingin berkata “hujatlah aku dengan kata-kata yang sepahit mungkin, dengan kata kebencian”.

Kata kunci kedua adalah Tellongengta. Kata tellongeng dalam bahasa Bugis memiliki tiga arti, yakni jendela, mata dan hati. Memperhatikan kata didepannya, riyawa yang bermakna "dasar/di bawah" maka kata ini tepat pada makna hati. Menyambung makna bari pertama maka kalimat pada baris kedua ini seolah ingin berkata “hinalah aku hingga perih lubuk hatiku”.

Membaca baris ketiga, maka makna utuh dari dua baris diatas makin jelas. Kata Tapada yang bermakna "saling", mengantarkan pada makna bahwa orang kedua akan ikut marah pula pada orang pertama hingga orang pertama merasakan perih pada lubuk hatinya.

Galigo ini adalah galigo yang paling dihindari dan ditakuti oleh sepasang suami istri (keluarga), jika salah satu pihak mengumbar galigo ini dan pihak lainnya tak bisa menahan diri, maka percerian adalah penyelesaian paling pungkas. Maka, lazimnya galigo ini selalu dijadikan bahan dalam nasehat perkawinan dalam masyarakat Bugis. Disampaikan oleh tetua keluarga pada saat prosesi mappacci, sederhananya nasehat itu berbunyi “lesangengngi alemi, aja’ mupebaliwi nareko ripallesuriko Paria lorongnomai, Riyawa tellongengta, Tapada mapai” (Jika pasanganmu mengumbarkan Galigo ini dihadapanmu, baik engkau pergi menenangkan diri dan jangan menyahutinya, fatal akibatnya).

Amarah dibalas amarah, jadinya angkara murka. Itulah pesan utama dari Galigo ini.

========
Oleh : Suryadin Laoddang