Thursday, January 31, 2013

GALIGO HARI INI (SERI 99 )
Untuk mereka yang lagi ribut dengan pasangannya

Paria lorongnomai (8)
Riyawa tellongengta (7)
Tapada mapai (6)

Arti Bugis Umum
Pallessuni caimu, ubali cai tokki natomassarang

Arti Indonesia
Tumpahkanlah amarahmu padaku, kan kubalas pula dengan amarah, dengan begitu kita akan segera bercerai.

Penjelasan
Galigo ini termasuk kategori sulit, memiliki 3 lapisan makna. Dari makna kata, arti makna lalu makna sesungguhnya. Kata kuncinya terletak pada kata Paria dan Tellongeng, paria adalah tanaman sayur yang memiliki rasa pahit. Dalam galigo ini kata pai (pahit) mewakili makna amarah, benci bahkan hujat. Jadi baris pertama ini seolah ingin berkata “hujatlah aku dengan kata-kata yang sepahit mungkin, dengan kata kebencian”.

Kata kunci kedua adalah Tellongengta. Kata tellongeng dalam bahasa Bugis memiliki tiga arti, yakni jendela, mata dan hati. Memperhatikan kata didepannya, riyawa yang bermakna "dasar/di bawah" maka kata ini tepat pada makna hati. Menyambung makna bari pertama maka kalimat pada baris kedua ini seolah ingin berkata “hinalah aku hingga perih lubuk hatiku”.

Membaca baris ketiga, maka makna utuh dari dua baris diatas makin jelas. Kata Tapada yang bermakna "saling", mengantarkan pada makna bahwa orang kedua akan ikut marah pula pada orang pertama hingga orang pertama merasakan perih pada lubuk hatinya.

Galigo ini adalah galigo yang paling dihindari dan ditakuti oleh sepasang suami istri (keluarga), jika salah satu pihak mengumbar galigo ini dan pihak lainnya tak bisa menahan diri, maka percerian adalah penyelesaian paling pungkas. Maka, lazimnya galigo ini selalu dijadikan bahan dalam nasehat perkawinan dalam masyarakat Bugis. Disampaikan oleh tetua keluarga pada saat prosesi mappacci, sederhananya nasehat itu berbunyi “lesangengngi alemi, aja’ mupebaliwi nareko ripallesuriko Paria lorongnomai, Riyawa tellongengta, Tapada mapai” (Jika pasanganmu mengumbarkan Galigo ini dihadapanmu, baik engkau pergi menenangkan diri dan jangan menyahutinya, fatal akibatnya).

Amarah dibalas amarah, jadinya angkara murka. Itulah pesan utama dari Galigo ini.

========
Oleh : Suryadin Laoddang


Posted on Thursday, January 31, 2013 by Suryadin Laoddang

No comments

Thursday, January 17, 2013

GALIGO HARI INI (SERI 98 )
Menjawab pertanyaan Ifa HR dan Takdir

Mauluttu Massuajang (8)
Oki SiputanraE (7)
Teppa Rewe’mua (6)

Arti Bugis Umum
Mauni lao tega laona, narekko siputotoi, tette’i siruntu

Arti Indonesia
Dimanapun keberadaannya, kalau sudah jodoh, takkan kemana.

Penjelasan
Galigo ini tidak termasuk dalam kategori sulit, tidak memiliki pelapisan makna, tidak juga memiliki kata kunci sebagai pembuka keseluruhan maknanya. Galigo ini mudah dicerna, meski kata yang dipakai bukan lagi kata dalam kosa kata Bugis yang jamak ditemui saat ini.

Kata yang dimaksud adalah Massuajang yang memiliki padanan kata dalam Bahasa Indonesia yakni melayang, membahana, melanlang buana. Lalu kata Oki SiputanraE yang bermakna suratan takdir. Jadi Galigo ini cocok bagi orang yang lagi Sisappa Tessiseng, orang yang lagi galau mencari di manakah gerangan jodohnya berada.

Posted on Thursday, January 17, 2013 by Suryadin Laoddang

No comments

Saturday, January 5, 2013

GALIGO HARI INI (SERI 97 )
Sumbangan X-ukar (Siswa SMAN 1 Majauleng, Wajo)

Sanreka nabelleang ka (8)
Renrinna to kera e (7)
Annung passiona (6)

Arti Bugis Umum Awwe bateku maddennuang rialena, lemmuha nyawana nabellengka, nakalasiangka

Arti Indonesia
Pupus sudah harapan, kepercayaanku engkau hianati, engkau nodai



Penjelasan Kata sulit sekaligus kata kunci dari Galigo ini terletak pada kata RENRINGNA TO KEERAE dan ANNUNG.

Renringna To Kera’E, merunut pada sejarah dan penuturan beberapa Tetua masyarakat Keera yang sempat kami hubungi, dahulu rumah-rumah masyarakat keera lazim menggunakan anyaman yang terbuat dari daun pohon Sagu. Mengingat saat itu, daerah Keera hingga ke daerah di utaranya (Siwa, Boriko, hingga Luwu) terkenal sebagai penghasil Sagu, sebelum digantikan dengan tanaman cengkeh. Atap anyaman ini disebut atap rumbia yang dalam bahasa bugis disebut BAKKAWENG, berasal dari kata BAKKAA yang berarti melebar.

Annung, merunut pada penjelesan daeng Madong Arisona (dalam diskusi maya di Group Galigo Bugis) annung adalah sejenis pengikat, dibuat dari kulit pohon Annung yang masih muda (sebesar pohon bambu). Dulu di tanah Bugis, saat tanaman padi mulai bernas (berisi)/menjelang masa Arenggalang (panen dengan menggunaka Rakkapeng (Ani-Ani) para petani masuk ke hutan mencari Annung. Batang annung itu kemudian dimemarkan hinga kulit dan kayunya terpisah. Kulitnya itu kemudian dijemur 1-2 minggu, annung yang telah kering dipakai untuk pengikat Wesse. Wesse adalah bahasa Bugis untuk menyebut satuan rimbun padi yang masih melekat pada batangnya dan telah dipotong memakai Rakkapeng tadi. Annung sendiri sesungguhnya bukanlah bahan pengikat yang kuat (rapuh), marafo dalam bahasa bugis.

Dari penjelasan diatas maka Galigo ini bermakna, BERSANDAR DAN AKU TERTIPU, PADA KATA-KATANYA YANG MEMBUAI (MELEBAR), TERNYATA SEMUA HANYA ISAPAN JEMPOL/TAK ADA DASAR YANG KUAT (RAPUH).

Posted on Saturday, January 05, 2013 by Suryadin Laoddang

No comments