Monday, September 2, 2013

GALIGO HARI INI (SERI 106 )
Serial Lamar-melamar


Mancinnairo Maggalung (8)
Galung Naranreng Sepeq (7)
Nabine Ri Takko (6)

Arti Bugis Umum

Temacinna manggalung lebbi, mallise na namadeceng wassale’na

Arti Indonesia

Kami hendak mengolah sepetak sawah yang melimpah airnya dan subur dan benih yang terbaik

Penjelasan
Setelah pihak pria dan perempuan saling mengutarakan rasa suka atas pertemuan dua keluarga besar ini, pihak pria mulai membuka arah pembicaraan ke niatnya untuk melamar. Namun niatnya tersebut disampaikan dengan ungkapan perumpamaan yang sangat halus. Sang lelaki mengibaratkan dirinya tak lebih dari seorang petani biasa yang ingin mengolah sepetak sawah yang diapit dengan dua aliran saluran irigasi disampingnya, lalu kelak akan ditanami dengan benih pilihan dengan harapan akan tumbuh padi yang berisi dan melimpah.

Dalam dinamika persawahan orang Bugis, sawah yang diapit dua saliran irigasi biasanya berupa saluran mata air pada salah satu sisi dan saluran irigasi di sisi lainnya. Masyarakat Bugis menyebut sawah seperti ini sebagai GALUNG LEBBI (sawah yang sangat baik), sawah yang tak pernah kering dari air dan juga tidak ditumbuhi oleh gulma/rumput lainnya.

Saluran irigasi dari mata air mewakali simbol bahwa sang perempuan berasalah dari keturuan seorang ayah (sperma) yang baik. Sementara saluran irigasi melambangkan bahwa sang gadis lahir dari rahim seorang ibu yang juga adalah ibu dari golongan baik-baik. Perpaduan atara ayah dan ibu dari golongan yang baik ini akan melahirkan anak yang santun bersahaja yang dalam bahasa Bugis disebut MALEBBI. Selain itu, kata Galung Lebbi juga tidak ditumbuhi rumput liar mewakali makna bahwa gadis tersebut tidak sedang terikat dengan perikatan atau pinangan dari siapapun.

Sementara kata Bine ri Takko pada baris ketiga mengandung makna, bahwa sang gadis adalah gadis yang selama ini dijaga kesucian dan kemuliannya oleh orang tuanya, berasal dari kata TAKKO yang berarti dijaga kesuciannya/kualitasnya, merupakan kata turunan dari kata TANGKE (dipingit).

Masihkan ada gadis seperti itu saat ini? Semoga. Lalu, bagaimana kisah lanjutand dari proses lamar melamar ini, tunggu edisi selanjutnya.

=====
Foto : Koleksi Noor Sidin

Posted on Monday, September 02, 2013 by SURYADIN LAODDANG

No comments

Sunday, April 28, 2013


GALIGO HARI INI (SERI 105 )
Edisi Selingan dari Serial lamar-melamar


Tappa Curu Na Mamelleng (8)
Aduu Parewa Jabba (7)
Tebbu Tonrong Salo (6)

Arti Bugis Umum
Aganatu angkeqmu iko, mattappa tomalasatono, masumpu nyawa tono, dettona gaga rettemu

Arti Indonesia
Apa yang dapat kami andalkan pada dirimu, sudah berwajah tanpa harapan, kamu juga tidak memiliki kelebihan apapun dan juga tidak memiliki pengaruh apapun.

Penjelasan
Secara umum galigo termasuk kategori sulit, masing-masing baris memiliki kata kunci untuk menjelaskan makna masing-masing baris untuk mencapai makna utuh dari galigo ini. Pada baris pertama kata kuncinya terletak pada kata “curu na mamelleng”, sementara rangkaian kata pada baris kedua dan ketiga semuanya menjadi kata kunci yang terikat dan dalam sebuah kesatuan makna.

Kata curu memiliki makna “sesuatu yang sengaja (memilih) tenggelam” untuk bersembunyi agar tidak terlihat dipermukaan atau tidak tampak oleh orang lain. Tempat bersembunyi ini biasanya dilakukan di air dalam atau dibalik semak-semak, onggokan batu, kayu dan benda lainnya. Kata Mamelleng memiliki makna “wajah yang tatapan kosong”, kata ini mungkin sudah jarang ditemui dalam bahasa pergaulan akhir-akhir ini. Di sebelah timur kota Sengkang (Ibukota Kabupaten Wajo Sul-Sel) atau tepatnya di sebelah utara Kota Tosora (Bekas Ibukota Kerajaan Wajo sebelum pindah ke Sengkang) terdapat sebuah kampung yang bernama Mellengnge. Konon, kampung yang kini terletak di desa Cinnongtabi ini pada masa Musuq Sellengnge (1669) dihuni oleh-oleh penduduk yang memiliki wajah tanpa gairah hidup. Disebabkan oleh rasa sedih mereka melihat hancurnya istana Tosora karena dibombardir oleh meriam-meriam Belanda yang waktu itu bersekutu dengan Kerajaan Bone.

Pada baris kedua ditemui rangkaian kata “Aduu Parewa Jabba” yang secara bebas dapat diterjemahkan menjadi “rumput yang menjadi bahan utama membuat sangkar burung”. Sangkar burung yang dalam bahasa Bugis disebut “Jabba”. Jabba biasanya dibuat dari bahan baku berupa tanaman dari kelompok tebu-tebuan yang lebih mirip rumput. Bentuk dan warnanya mirip bambu kuning/gading. Telle jika ditulis dalam bahasa Bugis, bisa dibaca menjadi Telleng (tenggelam), analogi telleng inilah yang diterjemahan menjadi tenggelam yang memiliki makna seseorang yang tidak menonjol ditengah orang kebayakan. Ibarat seseorang yang tidak memiliki pengaruh apapun. Adanya tidak menambahi, tidak adanya tidak mengurangi.

Pada baris ketiga, kata “Tebbu Tonrong Salo” secara bebas dapat diterjemahkan menjadi tanaman tebu yang tumbuh di hilir sungai. Tebu semacam ini pasti rasanya hambar, tidak manis seperti tebu pada umumnya. Ungkapan ini umumnya dialamatkan pada orang yang tidak memiliki kelebihan atau keunggulan apapun yang dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan lingkungannya. Secara utuh, , galigo ini ingin mengikhtibarkan agar setiap manusia dalam menghadapi hidup harus optimis, harus memiliki kelebihan dan dapat diterima ditengah masyarakat. Semoga kita termasuk didalamnya.

***
Sumber Foto : Cas Oofthyus/nfa, cool, Nederlands fotomuseum

====
Oleh : Suryadin Laoddang

Posted on Sunday, April 28, 2013 by SURYADIN LAODDANG

No comments

Sunday, April 21, 2013

GALIGO HARI INI (SERI 104 )
Serial Lamar-melamar

Rennuta Ribali Rennu (8)
Mattunrung na Mattakke (7)
Ripominasae (6)

Arti Bugis Umum
Rennutta ibali rennu, lebbifi egana rennukku, padatoha iya pada riminasaiyye

Arti Indonesia
Kabar gembira tentu kami balas gembira, justru gembira kami lebih besar dan luas, tentu itu yang kita harapkan semua.

Penjelasan
Setelah mendengarkan (utaraan) maksud kedatangan sang tamu (rombongan keluarga calon mempelai pria), maka keluarga calon mempelai perempuan membalas dengan ungkapan suka cita pula. Mereka menyambut gembira maksud kedatangan calon mempelai pria yang datang membawa kabar gembira. Makna gembira ini merujuk pada kata rennu, kosa kata Bugis bermakna gembira.

Kata sulit pada Galigo ini terletak pada baris kedua, pada kata Mattunrung na Mattakke. Kata tunrung bermakna tandan (seperti pada pisang) dan kata Mattakke bermakna bercabang. Lewat frase ini, pihak perempuan ingin menyatakan jika rasa gembira mereka bagaikan batang buah pisang yang melahirkan buah pisang yang banyak, juga ibarat batang pohon yang menghasilkan banyak dahan, cabang dan ranting. Sederhananya bisa diringkas dalam kalimat “rasa gembira kami ini beranak pinak dan berkembang luas”. Sementara pada baris ketiga, kata Ripominasae sendiri bermakna sesuatu yang diharapkan bersama, berasal dari kata minasa yang berarti harapan, impian, asa, keinginan, hasrat, tujuan.

Seperti apa percakapan dalam acara lamar-melamar ala Bugis yang berbalut kiasan ini berikutnya, tunggu edisi berikutnya. Salam Galigo

****
Sumber Foto : Tropen Museum via Noor Sidin

====
Oleh : Suryadin Laoddang

Posted on Sunday, April 21, 2013 by SURYADIN LAODDANG

No comments

Thursday, March 28, 2013

GALIGO HARI INI (SERI 103 ) 

Serial Lamar-melamar 


Ambo Baco Indo Baco (8)
Palengeng Palek Lima (7)
Liseq Rio Rennu (6)


Arti Bugis Umum

Eee, ambona La Baco iyarega Indona La Bace, tapallebbangni mai aga aktatta, nangkalingai funna bolaE, Nassau, natemmu. 

Arti Indonesia 
Duhai orang tua dari sang calon mempelai laki-laki. Ungkapkanlah maksud kedatanganmu kehadapan tuan rumah, agar kita sama tau dan bertemulah semua harapan. 


Penjelasan 
Menjawab permintaan tuan rumah agar sang tamu mengutarakan niat sesungguhnya, maka juru bicara sang tamu yang bertugas sebatas pembuka pembicaraan segera mempersilahkan orang tua sang tamu (pelamar/pihak pria) untuk mengutarakan maksud kedatangan mereka. Dalam kasus ini sang juru bicara rupanya tak ingin melangkah orang tua sang pelamar untuk menyampaikan maksud kedatangan mereka. Kebanyakan dalam proses lamar melamar, juru bicaralah yang mengambil peran penuh mulai dari awal hingga mengambil keputusan akhir, meski selama proses tersebut interaksi berupa konsultasi antara juru bicara dan orang tua pelamar sangatlah dimungkinkan. 

Demi mempersilahkan orang tua pelamar, sang juru bicara menggunakan kalimat “Ambo Baco Indo Baco, Palengeng Palek Lima, Liseq Rio Rennu”. Sebuah kalimat bernada elong galigo, yang memiliki pelapisan makna, setidaknya dua lapis makna. 

Kalimat Ambo Baco dan Indo Baco bermakna Ee Indoqna atau Amboqna La Baco, hai Ibu atau Ayah dari La Baco. Sementara kalimat Palengeng Paleq Lima berarti tengadahkan telapak tanganmu, untuk menegadahkan telapak tangan maka telapak tangan dan jemari perlu dibuka melebar, upaya ini dalam bahasa bugis disebut MALLEBBAA (melebar). Mellebba jika ditulis dalam aksara lontara bisa pula dibaca menjadi MALLEBBANG (terbuka, tersiar) yang memiliki makna tidak tertutupi, bukan rahasia atau semua orang bisa mengetahuinya. 

Sementara untuk mengetahui makna baris ketiga yang berbunyi Liseq rio rennu, yang jika dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia akan bermakna isi/inti/hakikat dari keriangan atas sebuah harapan. Untuk menemukan makna hakikinya maka dapat ditemukan dengan cara menjawab pertanyaan “apakah hakikat dari rasa riang seseorang setelah harapannya terpenuhi” 

Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah kelegaan, dalam bahasa bugis disebut Massau, jika ditulis dalam aksara lontara bugis maka tulisannya dapat pula dibaca menjadi MASSAUUU, salah satu kegiatan dalam kegiatan menenun kain sarung. Esensi utama dari kegiatan massauu ini adalah mempertemukan ujung demi ujung benang (massumpung) yang selanjutnya akan menjadi lungsi dari tenunan tersebut. Di tanah bugis pertemuan ujung benang tersebut disebut MATTEMMU. Dalam konteks galigo ini, kata mattemmu bermakna sangkaan tuan rumah (baca Galigo seri 102) dengan maksud kedatangan tamu dapat saling bersambut tangan.

====
Oleh : Suryadin Laoddang

Posted on Thursday, March 28, 2013 by SURYADIN LAODDANG

No comments

Wednesday, March 6, 2013

GALIGO HARI INI (SERI 102 )
Serial Lamar-melamar


Upemmaga Apoletta (8)
Utuling Akkattata (7)
Pallinoni sia (6)

Arti Bugis Umum
Upenessa apolengengta, uranga-uranga akkatata, madecengni narekko tafalessu toni.

Arti Indonesia
Sesungguhnya telah kami duga ikhwal kedatangan tuan, pun maksud kedatangan tuan telah kami reka-reka. Namun agar lebih terang, ada baiknya tuan utarakan sendiri.

Penjelasan
Ini adalah Galigo jawaban tuan rumah atas kedatangan keluarga mempelai pria, dengan suka cita tuan rumah menyambut kedatangan tamunya. Dalam masyarakat Bugis, kedatangan tamu dianggap sebagai penghantar rejeki. Apalagi ketika orang itu datang melamar, tentu adalah rejeki yang tak terkira nilainya.

Meski tuan rumah sudah tahu maksud kedatangan tamunya, tapi ia tidaklah jumawa dan tetap persilahkan tamunya untuk utarakan maksudnya, ini juga wujud menghormati tamu. Selain itu, tersirat makna dimana tuan rumah menginginkan agar sang tamu langsung mengarahkan pembicaraan ke inti tujuan kedatangan mereka, permintaan itu disampaik dengan halus tapi tegas lewat kata “Pallinoni Sia”, segeralah utarakan.

Kata Upemmaga dalam bait pertama bermakana “uporennu madeceng”, seolah tuan rumah ingin berkata “sungguh senang kami menerima kedatangan tuan (membawa lamaran)”. Sementara kata “utoling” pada bait kedua bermakna “pura ucappa toling”, yang berarti tuan rumah sebelumnya telah mendengar bocoran berita jika keluarga tamu akan datang melamar. Bocoran berita itu adalah kabar baik dan rejeki bagi tuan rumah, inilah yang dimasyarakat Bugis disebut sebagai “dalle doccili”, rejeki lewat telinga (pendengaran, berita).

====
Oleh : Suryadin Laoddang

Posted on Wednesday, March 06, 2013 by SURYADIN LAODDANG

No comments